Mengapa Aplikasi Laris Anaktirikan Android?



KOMPAS.com - Android dan iOS bisa disebut sebagai sistem operasi mobile terbesar saat ini. Namun untuk ketersediaan dan eksklusivitas aplikasi, iOS masih juaranya. Ada kesan bahwa Android dinomorduakan oleh para pengembang aplikasi (developer).

Sebut saja Angry Birds, Instagram, atau Words With Friends, aplikasi populer ini tersedia terlebih dahulu untuk iOS. Butuh waktu setahun agar Angry Birds mendarat di Android, Instagram satu setengah tahun, sedangkan Words With Friends dua tahun.

Bahkan, ada beberapa aplikasi yang sampai sekarang belum ada di Android, seperti Flipboard, Infinity Blade, Pinterest, dan Tweetbot.

Sekalipun ada aplikasi yang sukses di Android, kemudian dibuat untuk iOS, hal itu sangat jarang. Mengapa developer lebih memilih iOS ketimbang Android? Ada dua alasan yang mendasarinya.

Uang

Tidak dipungkiri para pengembang aplikasi butuh imbalan atas prestasi aplikasi yang dibuatnya. Kebanyakan developer yang berpengalaman membuat aplikasi sukses di kedua platform, melaporkan bahwa mereka mendapat uang lebih banyak dari toko online Apple App Store ketimbang Google Play Store.

Perusahaan Mike Mobile yang membuat aplikasi Zombieville USA, menulis dalam blog-nya, bahwa Android kurang menghasilkan uang. Sepanjang tahun 2011, penjualan aplikasi di Android hanya menyumbang 5% keuntungan perusahaan.

Salah satu penyebabnya, para pengguna Android terbiasa dengan yang serba gratis dan enggan membeli aplikasi.

Gene Munster, analis dari perusahaan Piper Jaffray, menyimpulkan pada akhir 2011 lalu bahwa developer untuk iOS mendapatkan keuntungan 85% sampai 90% dari total biaya yang dibutuhkan untuk menciptakan aplikasi. Sedangkan di Android, developer hanya mendapat sekitar 7% dari total biaya membuat aplikasi.

Apple sempat menyatakan, mereka telah mengeluarkan 3 miliar dollar AS untuk developer yang membuat aplikasi di App Store. Apple mendapat 30% dari setiap penjualan aplikasi di App Store.

Kesederhanaan

Karena Android diadopsi oleh banyak vendor, ada banyak model perangkat Android dengan perbedaan hardware signifikan yang beredar di pasaran.

Menurut Epic, perusahaan pembuat aplikasi Infinity Blade di iOS, Android tidak bisa menjamin pengalaman yang sama bagi penggunanya karena perbedaan prosesor, memori, ukuran dan resolusi layar pada setiap perangkat.

Perbedaan hardware itu menyebabkan fragmentasi, di mana sering ditemui sebuah aplikasi tidak menampilkan tampilan yang konsisten.

Belum lagi, ada perbedaan penggunaan tombol di perangkat Android. Ada perangkat yang menggunakan 3 tombol fisik di bawah layar, dan ada pula yang menggunakan 4 tombol.

Sementara hardware di iPhone, iPad,  ataupun iPod touch, meski terus ditingkatkan, namun tidak mengalami perubahan signifikan. Hal ini cenderung memudahkan developer dalam membangun aplikasi agar semua penggunanya mendapatkan pengalaman yang sama.

Masalah hardware berdampak pada kemampuan sebuah perangkat menjalankan sistem operasi Android terbaru. Perangkat Android dengan spesifikasi minim, tentu tidak kuat menjalankan sistem operasi Android terkini, versi 4.0 atau dijuluki Ice Cream Sandwich. Saat ini, Ice Cream Sandwich sendiri baru diadopsi oleh 3% perangkat Android. Yang paling populer masih versi 2.3 yakni Gingerbread.

Sedangkan adopsi sistem operasi terkini dari Apple, dengan cepat dipakai oleh penggunanya. Menurut laporan perusahaan yang didirikan Steve Jobs itu, sistem operasi iOS versi 5.1 telah diadopsi oleh hampir 80% perangkat hanya dalam waktu 15 hari setelah dirilis. iPhone 3GS yang terbilang lawas pun, mampu menjalankan iOS versi 5.1.

Dengan segala keseragaman di iPhone, iPad dan iPod touch, developer memandang membuat aplikasi iOS lebih sederhana ketimbang Android.

Sebagai empunya Android, Google memang membebaskan Android agar bisa diadopsi oleh vendor manapun, meski efek dari kebebasan itu mulai dikeluhkan kini oleh penggunanya.

Kendati demikian, Google tetap meyakini bahwa Android adalah tentang pilihan agar siapapun bisa menikmati kecanggihan si Robot Hijau.

Sumber : tekno.kompas.com

0 komentar:


Jika ingin berkomentar, kamu harus join dulu di Blog ini.

Note: Only a member of this blog may post a comment.